Yulianus Dogei

TERIMA KASIH BAPA


Bapa…
tulusnya nasehatmu telah membingkai di lubuk hatiku
menuju tingginya kedamaian hidup
tatapanmu meredahkan amarah ku
tak berdaya air mataku berderai
di kala mengingat tutur kata bijakmu.

Kau menjagaku…
dari kotoran raga dan jiwa yang ternodai
kau rela diterpa deburan buih yang berlalu
demi aku anakmu
seakan lelah tak pernah kau rasakan
memenuhi segala kebutuhanku
seakan bosan tak pernah datang padamu
kau menopangku ke jalan yang benar.

Ku urai hati ini…
untukmu bapa
demi segalanya yang telah kau labuhkan
pada dermaga hidupku
henya syair ku dari ketulusan hati ini
untukmu bapa
terima kasih.

Moanemani, 9 Agustus 2020
Karya: Yulianus Degei


KAU TELAH TIADA


Di kesepian malam…
secercah harapan datang menghampiriku
untuk menyambut datangnya jiwamu
secercah harapan untuk kau kembali pulang
hanya sebait puisi yang bisa kutanamkan.

Duduk membeku…
mulut bergoyang
tangan meminta
tapi tetap tidak berdaya
semua harapan sirna di telan waktu
sebab kau telah tiada
wahai ayahku tercinta
yang di alam sana.

Moanemani, 16 Agustus 2020
Karya: Yulianus Degei

AYAH DI DALAM HATI


Jiwa dan ragamu telah tiada…
namun cinta dan sayang ini tetap ada untukmu
sayangnya kita tak bias lagi bertemu
namamu selalu ada dalam hati ini
cinta ini untuk mu wahai ayah
cinta yang akan selalu bersemi
sayang ini untukmu wahai ayah
sayang yang tak pernah ada batas ini.

Jiwa dan ragamu telah jauh…
namun kasih sayangmu tak pernah hilang
karena kasih dan sayangmu
selalu ada pada hati kami
bersemayam abadi dalam sanubari.

Nabire, 20 Agustus 2020
Karya: Yulianus Degei

PAHLAWAN KU


Dalam tetes keringatmu…
di derai lelah tubuhmu
di penuhi cinta dan sayang yang begitu besar
demi kami engkau rela dibakar terik matahari
hujanpun tak mampu menghentikanmu
demi kami yang kau ssayangi
dalam setiap tutur doamu kau sampaikan harapan kami.

Ayah…..
selalu kan ku ingat setiap nasehatmu
di setiap nafas hidup ini
di relung hati ini kan ku ukir namamu
akan ku kobarkan semua harapan dan inpianmu
demi merasakan hangatnya senyiummu
dari dunia yang engkau berada
ayah
maafkan aku yang tak sempat membalas semuanya.

Nabire, 24 Agustus 2020
Karya: Yulianus Degei

AKU SAYANG AYAH


Ingin sekali kugali gundukan itu…
dan mencabut papan nama di setiap dukaku
biarlah nafas ini memeluk tentang mu
puisi-puisi gelap menimangku
syair berair mata merangkulku
dan merambatkaan tiap ratap di kesunyian malam
seolah kau utus jangkrit melenyapkan lelahku
nyanyian cerita tentang dahaga merindu
seolah kau titipkan restumu
melalui dingin malam menyuap
mantra-mantra menghapus basa tatapku.

Tiap dendang lantun macapat mengiring sendu…
seperti suara hati yang tersampaikan padaku
bahkan suara alunan musik berbeda saat anganku
menuju kenangmu
musik yang memancar melahirkan syair
bagaikan pujangga berlagu
ini untukmu
itu buatmu
dan doa sebagai baktiku
aku sayang ayah.

Nabire, 27 Agustus 2020
Karya: Yulianus Degei

)*Penyair adalah tinggal di Nabire.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *