Malam mulai terasa sunyi, hanya terdengar suara angin yang bermain dengan ranting-ranting pohon di samping gubuk”DESETERBA”. Sedangkan kita masih bersenda gurau via telepon genggam, bagaikan sepasang manusia yang sudah pernah bertemu dan saling mengenal.

Kau tertawa bahagia seakan fajar telah datang menjemput percakapan kita, sembari mencoba mengalihkan rasa sakit yang kau miliki. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum mendengar celotehanmu itu, tanpa henti dan sesekali hanya memberikan sedikit jeda untukku bicara.

Empat jam percakapan kita itu masih terasa tak cukup. Mulai dari pembahasan cerdas tentang cerita harian kita. Sehingga membahas hal-hal yang tak terlalu penting, tapi membuat kita berdua terhanyut dalam lirik dan irama kebahagiaan.

Pertemuan adalah penantian yang kita tunggu, seperti menanti sebuah jawaban dari semesta tentang ikhtiar yang selalu kita sampaikan kepada-Nya. Aku sudah terbiasa menunggu dan menanti sesuatu yang tak pasti, sedangkan kau sudah terbiasa menunggu kepastian.

Permasalahannya bukan kapan dan di mana kita akan bertemu, tapi apakah kau akan menerima pertemuan itu, atau mencampakkanku kemudian menghilang bersama serpihan debu yang ditiup angin.

Embun malam

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *